Breaking News
Home / Artikel / Urgensi Pendidikan Islam yang Murni

Urgensi Pendidikan Islam yang Murni

Di antara pokok-pokok yang agung dari Dakwah Salafiyyah adalah  mentarbiyyah generasi Islam atas Islam yang telah ditashfiyyah ( dimurnikan ) dari hal-hal yang mengotorinya, dengan tarbiyyah yang shahihah sejak dini , tarbiyyah Islamiyyah yang haq yang bersih dari pengaruh-pengaruh sistem pendidikan orang-orang kafir yang merusak.

Karena itulah kita melihat bagaimana gigihnya Salafush Shalih di dalam mentarbiyyah generasi umat ini sebagaimana nampak jelas di dalam perikehidupan mereka dan karya-karya tulis mereka.

Yang sungguh mengherankan ternyata ada orang yang menyebarkan keragu-raguan tentang Tarbiyyah Manhaj Salaf, dia adalah seorang pemimpin Partai “ Salafi “ Mesir yang menyatakan bahwa Salafiyyin telah kehilangan Manhaj Tarbiyyah, dia mengagumi tarbiyah Ikhwanul Muslimin sehingga ia ingin menggabungkan anak-anaknya ke tarbiyyah Ikhwanul Muslimin !!.

Oleh karena itulah kami terpanggil untuk memaparkan sebagian bahasan tentang urgensi Tarbiyyah Islamiyyah yang shahihah yaitu Tarbiyyah yang dilandaskan atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ( dengan pemahaman Salaful Ummah, dengan harapan semoga bisa menjadi penerang di dalam masalah ini dan selalu meneguhkan kita di atas Manhaj Salaf.
ASAL KEBAIKAN ADALAH ILMU DAN TAZKIYAH
Sesungguhnya akhir umat ini tidak akan baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi awalnya, dan generasi awalnya tidaklah baik kecuali dengan tazkiyyah dan ilmu, dan keduanya adalah  dua perkara penting yang Alloh ( mengutus NabiNya Muhammad ( untuk merealisasikan keduanya, bahkan Allah ( telah memuliakan Muhammad ( dengan dua hal ini sebelum beliau diciptakan, yaitu bahwa kakek beliau Ibrahim – Alaihi Sholatu wa Sallam – telah berdo’a kepada Rabbnya, beliau berkata   :

{ رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ }

“ Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” “ ( Al-Baqarah : 129 ).

Maka Alloh mengabulkan do’a Ibrahim – Alaihi Sholatu wa Sallam – sebagaimana Alloh jelaskan di dalam banyak ayat-ayatNya di antaranya :

{ كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنْكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ }

“  Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui “ ( Al-Baqarah : 151 ) dan firman Alloh Ta’ala :

{ لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ }

“  Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata “ ( Ali ‘Imran : 164 ) dan firman Alloh Ta’ala :

{ هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مبِينٍ

“  Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata “ ( Al-Jumu’ah : 2 ).

Dan Nabi ( bersabda :

«أنا دعوة أبي إبراهيم»

“ Aku adalah do’a Bapakku Ibrahim “ ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak 2/453, Baihaqi di dalam Musnad Syamiyyin 2/340 dan Ibnu ‘Asakir di dalam Tarikh Dimasyq 1/265/2 dan dishahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, dan Al-Albani di dalam Silsilah Shahihah : 1545 dan Shahih Sirah hal. 17 ).

Maka asal kebaikan adalah Ilmu dan Tazkiyyah, yang dengan keduanya tertutuplah sumber keburukan : syahwat dan syubhat, yang menepis syahwat adalah Tazkiyyah dan yang menepis syubhat adalah Ilmu.
BAGAIMANA MEWUJUDKAN ILMU DAN TAZKIYYAH ?
Setelah kita mengetahui bahwa Alloh telah menjadikan semua kebaikan di dalam Ilmu dan Tazkiyyah, maka bagaimana kita bisa mendapatkan keduanya, bagaimana kita bisa mewujudkan keduanya ?

Inilah yang banyak diserukan oleh para ulama Dakwah Salafiyyah dari dahulu hingga sekarang, di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang mengatakan : “ Wajib mengajarkan anak-anak kaum muslimin apa yang Alloh perintahkan untuk diajarkan kepada mereka, dan mentarbiyyah mereka di atas ketaatan kepada Alloh dan RasulNya “ ( Majmu’ Fatawa 11/504 ).

Demikian juga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang selalu mengangkat syi’ar Tashfiyah dan Tarbiyah, yaitu “ mentarbiyyah ( mendidik ) generasi Islam atas Islam yang telah ditashfiyyah ( dimurnikan ) dari hal-hal yang mengotorinya, dengan tarbiyyah yang shahihah sejak dini, tanpa dipengaruhi oleh sistem pendidikan barat yang merusak “ ( lihat Silsilah Dha’ifah 2/2 ).

Dikarenakan Islam telah dimasuki hal-hal yang bukan darinya dan yang tidak ada hubungannya sama sekali darinya, dari bid’ah-bid’ah dan hal-hal baru maka dibutuhkan Tashfiyah ( pemurnian ) aqidah Islam dari sesuatu yang tidak dikenal dan telah menyusup masuk kedalamnya, seperti kesyirikan, pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah Jalla Jalaluhu, atau penakwilannya, penolakan hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan aqidah dan lain sebagainya. Dibutuhkan pemurnian fiqh Islam dari segala bentuk ijtihad yang keliru yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah, serta pembebasan akal dari pengaruh-pengaruh taqlid dan kegelapan sikap fanatisme. Dibutuhkan pemurnian kitab-kitab tafsir al-Qur’an, fiqh, kitab-kitab yang berhubungan erat dengan raqa’iq dan kitab-kitab lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu, serta dongeng israiliyyat dan kemunkaran-kemunkaran lainnya.

Maka diperlukan Tarbiyyah Shahihah yang akan mewujudkan ilmu dan tazkiyyyah.
PARA NABI DAN PARA ULAMA ADALAH PENDIDIK MANUSIA DENGAN TARBIYYAH ALLOH TA’ALA
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : “ Sesungguhnya jiwa-jiwa manusia di hadapan para nabi dan rasul seperti anak-anak di hadapan para orang tua mereka bahkan lebih dari itu, karena inilah setiap jiwa yang tidak dididik para rasul tidak akan beruntung dan tidak akan bisa mendapatkan maslahatnya sebagaimana dikatakan :

ومن لا يربيه الرسول ويسقه … لبانا له قد در من ثدي قدسه

فذاك لقيط ماله نسبة الولا … ولا يتعدى طور ابناء جنسه

“ Dan siapa saja yang tidak dididik oleh Rasul dan diminumi

air susu yang diperah dari puting kesuciannya

Maka itu adalah anak pungut yang tidak memiliki nasab wala’

dan tidak mencapai fase pertumbuhan anak-anak sejenisnya “ ( Miftah Daris Sa’adah 1/66 cet. Darul Kutub Ilmiyyah ).

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Syaikh berkata : “ Makna Tarbiyyah adalah upaya bertahap dari seorang murabbi ( pendidik ) untuk menuju kesempurnaan, dan setiap kesempurnaan sesuai dengan kondisinya, dan tarbiyah yang paling agung dari Alloh terhadap manusia bahwa Alloh telah mengutus para rasul kepada mereka untuk mengajari mereka dan mengarahkan mereka kepada apa-apa yang mendekatkan mereka kepada Alloh Jalla wa ‘Ala, ini adalah nikmat yang paling agung “ ( Kutub Shalih Alu Syaikh 21/38 ).

Dan Rasulullah ( bersabda :

إن العلماء  ورثة الأنبياء و إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر

“ Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak “ ( Diriwayatkan oleh Tirmidzy dalam Jami’nya 5/48, Abu Dawud dalam Sunannya 3/317, dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/81, dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/83 dan Syaikh Al-Albany dalam Shahih Targhib 1/105 ).

Para ulama adalah pewaris para nabi di dalam keilmuan mereka dan tugas mereka mendidik manusia, Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : “ Di dalam hadits ini terdapat peringatan kepada para ulama agar menempuh petunjuk para nabi dan jalan mereka di dalam dakwah dari kesabaran, menahan diri, membalas kejelekan manusia dengan kebaikan, lembut kepada mereka, mengajak mereka kepada Alloh dengan jalan yang terbaik, dan mengerahkan apa yang memungkinkan dari nasehat kepada mereka, karena sesungguhnya dengan itulah maka para ulama mendapat bagian mereka dari warisan yang agung kadarnya, dan yang agung derajatnya. Dan di dalamnya juga terdapat peringatan keapda para ulama agar mentarbiyah umat sebagaimana orang tua mendidik anaknya, mendidik mereka dengan berangsur-angsur dan bertahap dari ilmu yang mudah kepada ilmu yang besar, dan membebani mereka darinya apa-apa yang mereka mampu sebagaimana seorang bapak memperlakukan anaknya di dalam menyampaikan konsumsi makanan kepadanya “  ( Miftah Daris Sa’adah 1/66 cet. Darul Kutub Ilmiyyah ).

Maka para ulama adalah barisan terdepan dari para murabbi ( pendidik ) umat ini yang mentarbiyah manusia dengan tarbiyah Alloh Ta’ala, tarbiyyah di atas Syari’at Alloh dengan berlandaskan Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.
PENTINGNYA TARBIYYAH ISLAMIYYAH SALAFIYYAH
Syaikh Dr. Abdullah bin Zaid Al-Muslim berkata : “ Tarbiyyah penting sekali, karena dia adalah mengasuh manusia dengan makna memberikan asupan kepadanya, asupan ruhani dan asupan jasmani. Dia adalah tanggung jawab yang besar di pundak para pendidik, dari ibu dan bapak, serta para guru dan yang lainnya. Sebagaimana Nabi ( bersabda :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala Negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut” ( Shahih Bukhari : 2232 dan Shahih Muslim : 3408 ).

Tarbiyyah shahihah ditekankan atas aqidah yang shahihah dan memurnikannya, menjauhkan dari segala macam kotoran-kotoran yang mengotorinya, menumbuhkan para pemuda, masyarakat, dan manusia semuanya atas aqidah yang shahihah ini, atas manhaj yang selamat, manhaj yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah RasulNya (, di atas jalan yang ditempuh Salafuna Shalih dan yang ditempuh oleh Nabi ( dan para sahabatnya, di atas moral yang selamat, moral yang ditata dengan Akhlaq Islamiyah yang luhur, dan dengan adab yang agung yang ditempuh oleh Salaful Ummat … dan juga menjauhi dari semua yang merusak perkara-perkara ini dan asas-asas ini dari fenomena-fenomena kesyirikan, penyelewengan-penyelewengan aqidah dan kebid’ahan-kebid’ahan, mensucikan umat dari bid’ah-bid’ah, dan mensucikan umat dari moral-moral dan akhlaq-akhlaq yang menyimpang, yang jauh dari manhaj yang selamat dan jauh dari fithrah yang selamat.

Dan tidak boleh tidak bahwa Tarbiyyah dibangun di atas pokok-pokok yang teguh dan kokoh yang tidak diganti dan diubah, bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ( atas pemahaman Salafush Shalih…

Tarbiyyah yang dilandaskan atas pendalaman keimanan, menguatkan iman di dalam jiwa-jiwa … Karena itulah maka kita mendapati bahawa Salafuna Shalih – Ridhwanallai Alaihim – mementingkan tarbiyyah yang agung ini, tarbiyyah Imaniyyah, dan mementingkannya Al-Qur’anul Karim dan Sunnah Nabawiyyah yang suci, kita mendapati bahwa ayat-ayat di dalam Al-Qur’anul Karim turun di Makkah Al-Mukarraomah atas para sahabat – Ridhwanullahi Alaihim – yang mereka telah mengenal al-haq dan telah mengenal agama ini, maka adalah ayat-ayat ini turun menjelaskan kepada mereka menjelaskan kepada mereka Tauhid beserta asas-asasnya dan kaidah-kaidahnya, menumbuhkan di dalam diri mereka keimanan, taqwa, dan al-yaqin, menjelaskan keagungan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan rasa takut dan rasa malu kepadaNya, menjelaskan keimanan kepada Alloh dan hari akhir, keimanan kepada qodho’ dan qodar yang baik dan buruknya, dan keimanan kepada Alloh, para malailatNya, kitab-kitab suciNya, dan para RasulNya “.

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh berkata : “ Wahai saudaraku seorang muslim sesungguhnya sebaik-baik tarbiyyah atau Tarbiyyah yang haq yang sesuai adalah Tarbiyyah Islam, pokok-pokok Tarbiyyah yang sebenarnya adalah yang terkandung di dalam syari’at Islam, yamg merupakan Tarbiyyah ruh dan jasad sekaligus, dia adalah Tarbiyyah yang ditegakkan di atas pokok-pokok syar’iyyah, di atas keteguhan-keteguhan Iman, dia adalah tarbiyyah yang benar-benar menghubungkan seorang hamba dengan Rabbnya, kemudian dengan Nabinya dan agamanya. Tarbiyyah yang menerangi jalannya, menjelaskan arah baginya, dan menjadikannya berjalan di atas petunjuk, sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman :

﴿أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ كَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ﴾ [محمد:14].

“ Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? “ ( Muhammad : 14 ).

Maka Tarbiyyah Islamiyyah adalah tarbiyyah yang haq yang tegak di atas asas-asas dan pokok-pokok yang teguh yang tidak mungkin diganti atau berubah. Sedangkan teori-teori pendidikan manusia berubah-ubah sesuai dengan perubahan zaman dan generasi. Maka betapa banyak dari teori-teori pendidikan ini yang diterima di suatu zaman kemudian datang zaman berikutnya dan dinyatakan bahwa : Teori tersebut sudah tidak sesuai dengan masyarakat sekarang dan tidak sesuai dengan kondisi sekarang dan tidak sesuai dengan zaman sekarang. Yang demikian itu karena dia adalah terbatas, dia adalah pemikiran-pemikiran manusia yang penuh dengan kekurangan, dan penemunya adalah lemah, tidak mampu menjangkau seluruh pokok-pokoknya, Alloh Ta’ala berfirman :

﴿أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ القُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا﴾ [النساء:82].

“  Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya “ ( An-Nisa’ : 82 ).

Adapun Tarbiyyah Islam maka dia adalah Tarbiyyah yang teguh, tarbiyyah yang tidak berubah dengan berlalunya zaman dan bergantinya generasi, bahkan dia adalah Tarbiyyah yang sesuai lagi memperbaiki, berjalan seiring dengan pokoknya dan masyarakat di manapun dan kapanpun, karena dia dari sisi Rabbul ‘Alamin tidak ada sekutu baginya.

Maka pokok-pokok Tarbiyyah ini dan asas-asasnya adalah : keimanan kepada Alloh, keimanan kepada RububiyyahNya, keimaman bahwa Dia adalah Rabb segala sesuatu dan Penciptanya, keimanan bahwa Dia adalah Esa di dalam dzat dan sifat-sifatNya, keimanan bahwa selalu melihat para makhlukNya dan mengetahui apa yang mereka perbuat …

Dia adalah tarbiyyah yang membawa apa-apa yang mensucikan jiwa, memperbaiki hati, dan meluruskan akhlaq. Maka diwajibkan sholat lima waktu sehari semalam agar hubungan seorang hamba dengan Rabbnya menjadi kuat dan kokoh, menjadikannya tunduk kepada Rabbnya, memahami keagungan dan kebesaranNya. Mendidik hamba untuk menyebar kebaikan, maka diwajibkan zakat atas orang-orang yang kaya agar menyantuni orang-orang yang fakir, sehingga bersatulah hati dan berkumpullah kalimat. Alloh mendidik mereka atas puasa, agar puasa ini menyiapkan jiwa untuk menempuh jalan yang lurus, sehingga menjadi kuatlah keikhlasan dan menjadi agunglah keyakinan… “ ( Dari Nadwah Ilmiyyah yang berjudul At-Tarbiyyah ‘Ala Dhaui Ahlis Sunnati wal Jama’ah disampaikan oleh Dr. Abdullan bin Zaid Al-Muslim dan Dr. Adil bin Muhammad As-Subai’i dengan ta’liq dari Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh dari http://www.assakina.com/mohadrat/24401.html )
PENUTUP
Inilah yang bisa kami paparkan tentang urgensi Tarbiyyah Islamiyyah yang shahihah yaitu Tarbiyyah yang dilandaskan atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ( dengan pemahaman Salaful Ummah.

Untuk lebih mengetahui lebih dalam tentang upaya-upaya gigih para ulama Dakwah Salafiyyah di dalam bidang Tarbiyyah maka silahkan merujuk kepada kitab Al-Fikr At-Tarbawi ‘Inda Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah oleh Syaikh Majid ‘Ursan Al-Kailani dan Al-Fikru At-Tarbawi ‘Inda Ibnil Qayyim oleh Abdul Badi’ Al-Khauli.

Akhirnya semoga Alloh selalu menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya para nabi, para Shiddiqin, Syuhada’, dan Shalihin. Amin.
والله أعلم بالصواب
Akhukum : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 3 =